Tahun 2000, aku kursus bahasa jerman di Goethe Institut Jakarta. Seperti kursus bahasa asing lainnya, selalu ada latihan percakapan. Salah satu dari latihan tersebut mengambil tema suasana di kantin universitas (Mensa). Alkisah, seorang mahasiswa tengah menikmati makan siangnya ketika seorang mahasiswi datang menghampiri mejanya sambil menyapa: “maaf, apakah kursi ini masih kosong? (Entschuldigen Sie bitte. Ist hier noch frei?)”. Si mahasiswa itu menjawab: “ya, tentu saja. silahkan duduk! (Ja, sicher. Bitte nehmen Sie Platz!)“. Akhirnya, si mahasiswi itupun duduk berhadap-hadapan dengan si mahasiswa dan isi percakapan selanjutnya bisa ditebak. Sambil makan, mereka saling menanyakan nama, asal, jurusan, semester berapa, tinggal dimana, hobi, dan ewes ewes ewes ewes lainnya...
Akhirnya datang juga! Suatu hari di musim semi di Goettingen Jerman pada tahun 2001, saat aku tengah menyantap makan siangku di sebuah Mensa, seorang mahasiswi bule lumayan “hot” datang menghampiri mejaku sambil berkata: “Ist hier noch frei?”. Bersorak dalam hati, kegirangan membayangkan skenario cerita dari kursus yang pernah kupelajari di GIJ, dengan gagah aku menjawab: “Ja natuerlich... Bitte nehmen Sie...” Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, si mahasiswi itu tersenyum, berterima kasih kepadaku: “Danke!”, namun sambil menarik kursi kosong di depanku, mengangkatnya dan kemudian membawanya pergi menuju ke meja seorang mahasiswa negro botak berbadan kekar nun jauh di seberang sana... Untuk menghibur diri secara ilmiah, aku bergumam dalam hati: "Hmm... atraksi-atraksi dalam kehidupan ini memang terbukti non linear!"